Aqidah Salaf tentang "di mana Allah"?
Para Salaf Mengimani Allah Tinggi Di Atas Arsy-Nya, Bukan Di Mana-Mana..
Rosulullah ﷺ dan para shohabatnya bukanlah orang-orang yang terkontaminasi oleh ilmu kalam dan filsafat sehingga mengimani dan menetapkan ketinggian Allah di atas Arsy-Nya itu mudah tidak serumit orang-orang belakangan.
Begitupula dengan para ulama yang istiqomah mengikuti sunnah (petunjuk) Rosulullah ﷺ dan para shohabat beliau seluruhnya mengimani ketinggian Allah di atas Arsy-Nya.
Al-Imam Al-Baihaqi dengan sanadnya menukilkan manuskrip yang dibacakan oleh Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ayyub tentang madzhab Ahlussunnah,
الرحمن على العرش استوى بلا كيف والآثار عن السلف في مثل هذا كثيرة وعلی هذه الطريق يدل مذهب الشافعي رضي الله عنه وإليها ذهب أحمد بن حنبل والحسين بن الفضل البجلي ومن المتأخرين أبو سليمان الخطابي
“Dzat Allah tinggi berada di atas Arsy-Nya, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya dan atsar para salaf terkait masalah ini sangatlah banyak. Di atas jalan inilah madzhab Asy-Syafii rodhiyallahu ‘anhu, madzhab Ahmad bin Hanbal, Al-Husain bin Al-Fadhl Al-Bajali serta para ulama muta’akkhirin seperti Abu Sulaiman Al-Khotthobi."
(Al-Asma’ was Shifat 2/308)
Murid Al-Imam Asy-Syafii yang tersohor yaitu Al-Imam Ismail bin Yahya Al-Muzani berkata,
عال على عرشه في مجده بذاته وهو دان بعلمه من خلقه أحاط علمه بالأمور
"Allah Tinggi di atas Arsy-Nya sesuai kemuliaan-Nya dengan Dzat-Nya, Dia dekat dari hamba-Nya dengan ilmu-Nya, dan ilmu-Nya meliputi segala perkara."
(Syarhussunnah Al-Muzani hlm. 75)
Al-Muzani juga menegaskan,
لا يصح لأحد توحيد حتى يعلم أن الله -تعالى- على العرش بصفاته
"Tauhid seseorang tidak akan lurus sampai dia mengetahui bahwa Allah tinggi di atas 'Arsy-Nya dengan sifat-sifat-Nya."
(Siyar A'lamin Nubala 12/499)
Abul Hasan Al-Asy'ari berkata,
"Kelompok Mu'tazilah, Jahmiyyah, Haruriyyah menerjemahkan istiwa dengan istila (menguasai), ini tidak benar, jika demikian adanya maka tidak ada perbedaan antara Arsy dan bumi.
Karena jika Allah beristiwa di atas Arsy-Nya diartikan "menguasai", padahal Dia menguasai segala sesuatu, berarti Dia beristiwa di atas Arsy, bumi, langit, rerumputan dan kotoran! Mahatinggi Allah atas yang demikian itu.
Mu'tazilah, Jahmiyyah, Haruriyyah juga mengatakan Allah ada di mana-mana, anggapan ini mengonsekuensikan mereka untuk mengatakan Allah juga berada di dalam perut Maryam, di atas rerumputan, dan tempat-tempat yang kosong (yang dibatasi oleh ruang dan waktu)! Mahatinggi Allah dari apa yang mereka tetapkan."
(Al-Ibanah 'An Ushulid Diyanah hlm 219)
Maka keyakinan Allah ada di mana-mana, di dalam hati, menyatu dengan manusia, semua itu bukan madzhab Ahlussunnah, bukan pula madzhab imam yang empat termasuk Asy-Syafii.
Keyakinan seperti itu jelas-jelas menyelisihi dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah serta ijma’ salaf.
Allah ta'ala mengabarkan Dzat-Nya di atas langit ke tujuh Tinggi di atas Arsy-Nya, tanpa membutuhkan tempat sebagaimana makhluk yang dibatasi oleh ruang dan waktu.
Ketinggian Allah mutlak dan Mahasempurna sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tidak serupa dengan apapun.
Allah ta'ala berfirman,
الرحمن على العرش استوى
"Dzat Allah Tinggi di atas Arsy-Nya.” (Thoha: 5)
Begitupula kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah menafikan ketinggian Allah berada di atas Arsy-Nya.
Karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu, Dia mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.
Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah bermakna percampuran atau menyatu dengan hamba-Nya.
Akan tetapi kebersamaan Allah adalah dengan ilmu-Nya sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur'an was Sunnah serta ijma' para salaf.
Sumber artikel :
Telegram :
Manhajulhaq ( Ustadz Fikri Abu Hasan )
Manhajulhaq ( Ustadz Fikri Abu Hasan )
Komentar
Posting Komentar